Pansophia Peduli Bencana Sumatera, Mahasiswa Berdonasi tanpa Komando, Berikrar Kutuk Perbuatan Merusak Alam

Menatap haru di layar kaca, membuat terenyuh dan pilu menyimak bencana yang menimpa saudara-saudara kita di tiga Provinsi di Pulau Sumatera; Daerah Istimewa Aceh, Padang (Sumatra Barat) dan Sumatera Utara.
Simpati lantas lahir dari benak para mahasiswa Pansophia Singaraja dengan menggalang donasi secara internal di lingkungan kampus mereka.
Dari upaya ini, terkumpul tiga dus pakaian yang masih layak pakai. Sementara manajemen kampus mengemas masing-masing 30 handuk (bath towel) sarana praktek housekeeping untuk menggenapi empati para mahasiswa Pansophia dalam unjuk kepedulian sosial kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Pulau Sumatra.
Ketika melepas dan memberangkatkan sumbangsih mereka ke perusahaan jasa pengiriman Singaraja yang berlokasi di Jalan Kamboja Singaraja, para Mahasiswa Pansophia dengan histeris berdoa di Parahyangan kampus.
Mereka memohon kepada semesta, Tuhan Yang Maha Pengasih, agar berkenan memberikan kekuatan Nurani kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Sumatera.
Menyaksikan sujud bakti para mahasiswa Pansophia pada Senin (8/12/2025), berdoa kehadapan Yang Maha Kuasa agar meringankan beban para kerabat Sumatera yang terdampak bencana, membuat bulu kuduk berdiri seakan doa tulus ikhlas mereka menembus langit untuk memohon agar Tuhan memberikan ketabahan kepada Sumatra atas bencana besar ini.
Pada kesempatan itu, mahasiswa berpesan agar para petinggi yang berkompeten di negeri ini, jangan lagi mengeluarkan izin kepada siapapun untuk tindakan memerkosa alam. Sebab musibah Sumatera adalah dampak dari alam yang diperlakukan secara tidak bijak, semata untuk dikeruk manfaatnya tanpa pernah ada upaya pelestarian.
”Kami mahasiswa Pansophia mengutuk perbuatan yang tidak ramah terhadap alam,” seru mahasiswa.
Menanggapi euphoria empati mahasiswanya, ditemui di ruang kerjanya, Direktur Pansophia DR. Made Yudana, M.Pd, mengaku sangat puas. Itu karena Pansophia telah berhasil mendidik mahasiswa untuk memiliki semangat berbagi, dan naluri social empathy.
”Saya puas, karena anak-anak kami tanpa dikomando, hatinya tergerak untuk bersimpati atas musibah atau bencana yang menimpa Sumatera, kami berharap semoga soft skill ini dapat terus kami pupuk untuk melahirkan lulusan yang tidak cuma terampil, namun juga memiliki sosial empati yang tinggi,” ujar Pak Yud- sapaan akrabnya.
Pak Yud juga berdoa semoga prahara Sumatra cepat tuntas tertangani oleh tangan-tangan bijak. ”Agar penanganan sesuai arahan bapak Presiden Prabowo Subianto. Astungkara,” pungkasnya.